Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material vulkanik baru dapat membuat daratan tersebut semakin meluas.
Sebaliknya, apabila aktivitas erupsi berhenti, gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat.
Kondisi itu memungkinkan daratan baru tersebut kembali tenggelam atau menyusut.
Baca Juga: Nasib pilu sopir truk Bali yang dibakar bosnya hingga kritis, rekan korban kini galang donasi
Selain erosi, longsoran bawah laut maupun erupsi eksplosif besar juga berpotensi merusak struktur endapan yang masih muda dalam waktu singkat.
Tiga syarat untuk disebut gunung api baru
Daryono menjelaskan, terdapat sejumlah syarat geologis yang harus terpenuhi agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri.
Pertama, daratan tersebut harus mempunyai saluran magma mandiri yang terhubung langsung dengan dapur magma melalui rekahan baru. Saluran tersebut harus terpisah dari kawah induknya.
Kedua, daratan tersebut harus menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri. Artinya, harus terdapat magma atau gas yang keluar dari kawahnya sendiri, bukan sekadar menerima material yang dimuntahkan Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga: Karhutla Kalsel meluas, kobaran api menyala di dekat RSJ Sambang Lihum
Ketiga, harus terdapat struktur geologis dan deformasi sendiri. Indikasinya dapat berupa aktivitas gempa vulkanik lokal maupun pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
Dengan sejumlah persyaratan itu, kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau belum dapat disebut sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri berdasarkan penjelasan Daryono.
Masyarakat diimbau tak terjebak spekulasi
Fenomena daratan baru di Selat Sunda menjadi bagian dari proses alam yang berkaitan dengan aktivitas gunung api dan dinamika laut.
Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi spekulatif yang beredar di media sosial terkait kemunculan daratan tersebut.