GENMILENIAL.ID – Fenomena munculnya daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau, perairan Selat Sunda, tengah menjadi perhatian publik.
Kemunculan daratan tersebut terjadi setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026.
Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya mengungkap keberadaan daratan baru dengan luas mencapai 32,8 hektare.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi di media sosial, termasuk penyebutan daratan baru itu sebagai 'Cucu Krakatau'.
Baca Juga: Kemarau panjang, Polsek Cibogo gerak cepat salurkan air bersih untuk warga
Namun, apakah kemunculan daratan tersebut benar-benar menandai lahirnya gunung api baru?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut.
Menurutnya, daratan baru itu bukan gunung api independen, melainkan hasil penumpukan material vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Daratan baru terbentuk dari material vulkanik
Daryono menjelaskan, daratan yang muncul di perairan Selat Sunda tersebut merupakan akumulasi material vulkanik yang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga: Bantu Anggara untuk sembuh dari leukemia AML, perjuangan sehat yang butuh biaya ratusan juta
Material itu antara lain berupa abu, batuan, dan lava hasil erupsi yang kemudian mengendap di laut.
Penumpukan material tersebut berlangsung secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” tulis Daryono dalam akun media sosialnya, Kamis, 24 September 2026.