Dalam riset ini, ia berkolaborasi dengan tim ITB dan Surplus Indonesia mengangkat topik 'Bio Nano AI Design for Postharvest.'
Riset ini mengusung pendekatan interdisipliner yang menggabungkan desain, bioteknologi, nanoteknologi, kecerdasan artifisial, hingga penginderaan jauh untuk menjawab tantangan sektor pascapanen.
“Riset ini merupakan kolaborasi lintas disiplin ilmu, dengan implementasi langsung pada sektor industri dan bisnis,” jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai komoditas pascapanen melalui inovasi berbasis teknologi, sekaligus memperkuat keterhubungan antara riset akademik dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Kebakaran rumah di Tanjung Duren Jakbar tewaskan 5 orang sekeluarga, diduga terjebak asap saat tidur
Perkuat ekosistem kreatif dan inovasi nasional
Raihan dua hibah riset ini menegaskan kapasitas Dwinita Larasati sebagai akademisi sekaligus penggerak ekosistem kreatif yang konsisten mendorong kolaborasi dan inovasi.
Lebih dari sekadar prestasi individu, capaian ini juga menjadi sinyal kuat bahwa riset berbasis desain dan teknologi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan masa depan.
Diharapkan, keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika, pelaku industri kreatif, serta jejaring kota kreatif untuk terus mengembangkan riset yang relevan, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.***
Artikel Terkait
ICCN perkuat sinergi dengan Kementerian Ekraf, usung AI dan kompas kota kreatif untuk akselerasi nasional
ICCN dampingi Ternate Youth Planner 2026, dorong kota rempah jadi gerbang gastronomi dunia
Promedia Group teken MoU dengan ICCN untuk perkuat kemandirian ekonomi kreatif di Indonesia
ICCN luncurkan E-Book retrospektif kota kreatif, dokumentasikan perjalanan kota kreatif di Indonesia
ICCN buka kolaborasi riset nasional, targetkan basis data kota kreatif Indonesia lebih kuat
ICCN ajak dukung film 'Pelangi di Mars', bukti animasi Indonesia naik kelas
Pemkab Pulau Taliabu gandeng ICCN, dorong ekonomi kreatif dan kemandirian daerah