Pihak BGN DIY menilai jajaran SPPG tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menjalankan tugas teknis, tetapi juga harus memperhatikan cara berkomunikasi, terutama ketika menyikapi persoalan yang menyangkut masyarakat.
Diminta bijak menggunakan media sosial
Gagat juga menekankan pentingnya keamanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG. Namun, ketika terdapat masyarakat yang diduga terdampak, jajaran SPPG dinilai perlu mengedepankan empati dan rasa saling menghormati.
Menurut Gagat, persoalan yang dialami masyarakat tidak seharusnya justru menjadi bahan olok-olok.
Baca Juga: RUU Reforma Agraria disepakati DPR dan pemerintah, konflik tanah hingga redistribusi jadi sorotan
Karena itu, seluruh jajaran SPPG di wilayahnya diminta lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial.
"Kita harus memahami sensitivitas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat," ungkap Gagat.
"Jangan sampai persoalan yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama justru dikomentari dengan cara yang tidak tepat," sambungnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah video yang diduga berisi olokan terhadap siswa korban keracunan MBG di Karo menjadi viral.
Baca Juga: Kapolres Subang ingatkan pelajar soal 2 bahaya: Narkoba dan pelanggaran lalu lintas
BGN DIY kemudian menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi bagi jajaran yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.
Fokus tingkatkan pelayanan MBG
Selain persoalan etika komunikasi, Gagat meminta seluruh jajaran SPPG untuk menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pelayanan.
"Tingkatkan kualitas pelayanan, pastikan keamanan pangan, laksanakan SOP," tegasnya.