news

Santri kelola sampah jadi potensi ekonomi, Kang Akur dorong pesantren di Subang jadi contoh

Senin, 21 September 2026 | 18:58 WIB
Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi menyampaikan sambutan pada tabligh akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Salafiyah Terpadu Nurul Anwar Mubtadi’in, Senin, 21 September 2026 (Dok. Istimewa)

Pada 2025, para santri mendapatkan edukasi dan praktik mengenai pemilahan serta pengelolaan sampah agar dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.

Pengelolaan sampah dinilai bisa berdampak ke ekonomi

Kang Akur menyebut pemberdayaan santri melalui pengelolaan sampah dapat menjadi contoh bagi pondok pesantren lain maupun masyarakat secara lebih luas.

Menurutnya, ketika sampah dikelola dengan baik, kegiatan tersebut dapat membuka ruang pemberdayaan sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Baca Juga: Detik-detik penyelam Basarnas Special Group pecahkan kaca Virgo Transport 8, evakuasi korban dari badan kapal yang karam

“Sehingga ekonomi masyarakat Subang menggeliat,” katanya.

Gagasan pengelolaan sampah berbasis pesantren sebelumnya juga mendapat perhatian dalam kegiatan edukasi di Nurul Anwar Mubtadi’in.

Dalam kegiatan tersebut, santri diperkenalkan pada cara memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah.

Sejumlah pihak juga mendorong agar keterampilan tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.

Baca Juga: Viral pembubaran ibadah jemaat GKPI di Rajeg Tangerang, warga marah pertanyakan izin sambil bawa sajam

Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi santri untuk mengenal persoalan lingkungan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemkab Subang dorong kolaborasi dengan pesantren

Selain menyoroti pengelolaan sampah, Kang Akur menyampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Subang untuk terus mendukung pengembangan masyarakat yang religius serta memiliki santri yang unggul, maju, dan kompetitif.

Menurut dia, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pesantren, masyarakat, dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Baca Juga: Pegawai SPPG sebut ‘70 persen ingatan hilang’ di video bukan untuk menyindir kasus MBG Karo: Harus dilihat secara universal

Halaman:

Tags

Terkini