Ketapang-Gilimanuk terancam lumpuh, pakar ITS soroti salah strategi dan beberkan opsi solusi

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 20 September 2026 | 23:26 WIB
Pengamat transportasi sekaligus alumnus ITS Surabaya, Ali Ruchi, saat menyampaikan evaluasi penanganan antrean Ketapang-Gilimanuk, Jumat, 18 September 2026 (Dok. Istimewa)
Pengamat transportasi sekaligus alumnus ITS Surabaya, Ali Ruchi, saat menyampaikan evaluasi penanganan antrean Ketapang-Gilimanuk, Jumat, 18 September 2026 (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Penumpukan kendaraan di perlintasan Ketapang-Gilimanuk dalam sebulan terakhir menjadi perhatian pengamat transportasi.

Kondisi tersebut dinilai membutuhkan penanganan teknis yang tepat agar antrean tidak semakin mengganggu kelancaran penyeberangan.

Pengamat transportasi sekaligus alumnus Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ali Ruchi, menilai kunci penanganan antrean saat ini bukan semata-mata menambah kapal berukuran besar.

Menurutnya, armada yang sudah tersedia di lintasan Ketapang-Gilimanuk perlu lebih dioptimalkan.

Baca Juga: Profil Danny Setiawan, mantan Gubernur Jabar itu kini telah wafat di usia ke-81

Ali membeberkan sejumlah opsi, mulai dari peningkatan jumlah perjalanan kapal hingga pemangkasan waktu bongkar muat.

Strategi tersebut dinilai dapat meningkatkan jumlah pergerakan kapal dalam sehari tanpa menimbulkan kepadatan baru di alur pelayaran.

Optimalisasi trip kapal jadi kunci

Ali mengusulkan agar operasional kapal dapat ditingkatkan hingga sembilan trip per kapal.

Selain itu, rata-rata waktu bongkar muat di dermaga MB perlu dipangkas dari delapan menit menjadi enam sampai tujuh menit.

Baca Juga: Dukung dan kawal program pemerintah, Qodari: Presiden Prabowo perjuangkan kesejahteraan masyarakat Indonesia

Sementara untuk dermaga LCM, durasi bongkar muat diusulkan menjadi sekitar 10 sampai 11 menit.

Menurut Ali, langkah tersebut dapat memangkas waktu yang dibutuhkan kapal untuk menyelesaikan satu siklus perjalanan.

"Skenario ini dirancang untuk memangkas turnaround time kapal, sehingga jumlah total pergerakan atau trip harian otomatis meningkat tanpa perlu memicu kepadatan baru di alur pelayaran, skema ini sudah pernah dilakukan pada sekitar tahun 2016 lalu saat LCT dilarang beroperasi," terang Ali, Jumat, 18 September 2026.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X