Metodologi audit dipertanyakan
Di sisi lain, Vid Adrison menyoroti persoalan metodologi audit BPKP yang dinilai belum memiliki standar yang jelas dan konsisten.
Ia menilai perbedaan hasil perhitungan antara BPKP dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menunjukkan adanya perbedaan pendekatan yang mendasar.
“Saya melihat ada persoalan metodologi. Dalam beberapa kasus hasil perhitungannya berbeda dengan hasil pemeriksaan BPK,” kata Vid.
Ia mencontohkan kasus pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan pada era Nadiem Makarim, serta perkara impor gula yang melibatkan mantan Menteri Perdagangan Thomas Lembong.
Baca Juga: Kronologi power bank penumpang berasap di pesawat Batik Air, sempat picu kepanikan di kabin
Dalam kasus tersebut, hasil audit menunjukkan perbedaan signifikan.
Vid menekankan pentingnya penyusunan metodologi yang transparan, terukur, dan seragam agar hasil audit tidak bergantung pada asumsi masing-masing auditor.
Risiko kerugian berbasis asumsi
Menurut Vid, kerugian keuangan negara seharusnya bersifat aktual dan pasti, bukan berbasis potensi atau asumsi.
Jika pendekatan berbasis potensi digunakan, maka hasilnya akan sangat bergantung pada asumsi yang digunakan auditor.
Baca Juga: Pria ditemukan meninggal di pinggir TPS Ranggawulung Subang, polisi pastikan tanpa tanda kekerasan
“Kalau kerugian negara didasarkan pada potensi, maka hasilnya akan sangat tergantung pada asumsi siapa yang dipakai,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pendekatan tersebut dapat mengaburkan batas antara kesalahan administrasi, kebijakan, dan tindak pidana korupsi.
Imbas pada kasus nyata