Dugaan keterlibatan geng motor juga diperkuat oleh temuan coretan vandalisme di sekitar tanggul Waduk Jatiluhur dengan inisial kelompok seperti ‘RPM’ dan ‘GBR’.
Selain itu, sempat beredar kabar adanya cekcok antara korban dengan anggota kelompok tersebut.
Namun, Kepala Desa setempat membantah adanya konflik antara korban dan pihak mana pun. Ia menjelaskan bahwa interaksi yang terjadi hanya sebatas teguran terkait coretan tersebut.
“Ini di tanggul itu corat-coret seperti ‘Ini gaya aing’, di sananya ada RPM dan GBR. Saya dengar dari anak-anak karang taruna, memang almarhum pernah memanggil karena tidak diketahui siapa yang menulisnya,” ujarnya, dikutip dari unggahan YouTube Dedi Mulyadi, Rabu, 29 Juli 2026.
“Yang ditanya itu hanya soal siapa yang mencoret. Almarhum hanya berpesan agar coretan itu dihapus jika ada yang merasa membuatnya,” lanjutnya.
Ia juga memastikan tidak ada keributan yang terjadi saat itu.
Baca Juga: Kasus tata kelola MBG Lodewyk Pusung: Isi chat dengan istri jadi bukti yang dikantongi Kejagung
“Tidak, tidak berkonflik. Dia hanya menanyakan itu dan tidak ada keributan,” imbuhnya.
Korban ditemukan tewas terborgol
Kasus ini menjadi perhatian luas setelah jenazah Sumarna ditemukan di perairan Waduk Jatiluhur pada Jumat, 24 Juli 2026.
Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam satpam dengan kondisi kedua tangan terborgol.
Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya besar terkait penyebab kematian korban. Polisi kini terus mengumpulkan bukti untuk mengungkap kejadian sebenarnya.
Sejauh ini, penyidik telah memeriksa sedikitnya 15 saksi, termasuk rekan kerja korban. Selain itu, rekaman CCTV di sekitar lokasi juga sedang ditelusuri guna mendapatkan petunjuk tambahan.