“Ke depan mereka bisa terlibat dalam unit usaha BUMDes, jadi punya kontribusi nyata,” katanya.
Langkah ini penting, karena persoalan ekonomi sering jadi celah masuknya paham radikal. Dengan bekal ekonomi dan wawasan, generasi muda diharapkan lebih kuat dari berbagai pengaruh negatif.
Baca Juga: Kekuatan media sosial, pengamen anak di Medan bertemu lagi dengan keluarga usai videonya viral
Target besar: Dari Jawa Barat ke nasional
Jaga Tunas Indonesia tidak ingin berhenti di Garut. Konsep ini sudah dipresentasikan ke BNPT dan berpeluang jadi model yang diperluas ke seluruh Jawa Barat, bahkan nasional.
Ki Maher optimistis, kalau pola ini konsisten dijalankan, akan lahir generasi muda yang lebih kritis, moderat, dan punya kepedulian tinggi terhadap bangsa.
“Ini baru awal. Harapannya bisa jadi gerakan besar yang menyebar ke banyak daerah,” katanya.
Anak muda jadi garda depan
Antusiasme peserta jadi sinyal positif. Banyak dari mereka merasa kegiatan ini membuka wawasan baru, terutama soal radikalisme dan peran mereka sebagai agen perubahan.
Salah satu peserta, Nizma Hilmia (16 tahun), pelajar SMAN 2 Garut, mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena melihat peran anak muda sebagai agen perubahan.
“Saya mendapatkan banyak sekali materi dan hal baru yang sebelumnya tidak saya tahu,” ujarnya.
Sementara itu, Pandya Muhammad Kusmayadi (17 tahun) dari SMAN 1 Garut mengaku mulai tergugah setelah memahami bahaya radikalisme.
“Saya ingin bisa merubah keadaan sekitar saya, karena kalau tidak menemukan orang baik, maka kita harus jadi salah satunya,” katanya.