GENMILENIAL.ID – Pengacara Hotman Paris mengaku geram karena timnya tidak diizinkan untuk menemui santri korban pembakaran di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.
Hal tersebut disampaikan Hotman melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menyebut tim Hotman 911 tidak bisa membesuk korban, bahkan keluarga korban disebut mendapat tekanan untuk tidak aktif di media sosial.
“Tim Hotman 911 tidak diizinkan besuk korban, ibunya dimarahin kalau sering masuk medsos,” ungkap Hotman dalam keterangannya.
Baca Juga: SMSI resmi bentuk kepengurusan di Subang, siap dorong industri media siber
Ia juga menambahkan bahwa meski dirinya masih berada di Singapura, timnya siap membantu membawa keluarga korban ke Jakarta.
“Hotman masih di Singapura, tapi Tim Hotman 911 siap bawa keluarga korban ke Jakarta,” lanjutnya.
Sebut korban seperti diisolasi
Tak hanya itu, Hotman juga menyoroti kondisi korban yang disebut seolah-olah diisolasi selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Melalui unggahan lainnya, ia meminta Komisi III DPR RI untuk memanggil Kapolres Lombok Tengah guna meminta penjelasan terkait penanganan kasus tersebut.
Baca Juga: Kekuatan media sosial, pengamen anak di Medan bertemu lagi dengan keluarga usai videonya viral
“Halo Komisi III DPR agar memanggil Kapolres Lombok Tengah. Bukannya dibawa berobat untuk operasi, malah diisolasi di RS Bhayangkara biar dijauhi dari media,” tulisnya.
Salah satu anggota tim pengacara, Putri Maya Rumanti yang berada di Lombok Tengah, juga mengaku tidak dapat menemui korban saat hendak membesuk.
“Mau besuk enggak bisa masuk, katanya dijagain,” ujarnya.
Keluarga korban minta bantuan