Ia menjelaskan bahwa sumber air irigasi sudah tidak mengalir. Bahkan embung yang selama ini menjadi cadangan air pun mengalami penyusutan drastis.
“Air di embung sekarang tinggal sekitar satu meter. Walaupun disedot pakai banyak mesin pompa, tetap tidak akan cukup untuk kebutuhan sawah,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Subang tegas soal jabatan: Zero rupiah, tak ada jual beli dalam pelantikan 18 PNS
Upaya petani untuk mengatasi kondisi ini secara mandiri pun mulai menemui jalan buntu karena keterbatasan sumber air yang tersedia.
Padi masih muda, risiko mati semakin besar
Rosid, petani dari wilayah Ciasem, juga mengungkapkan kondisi serupa. Ia menyebut sawahnya mulai retak-retak akibat tidak terairi.
“Padi baru berumur dua bulan, tapi sawah sudah kering. Tanaman ini terancam mati,” katanya.
Pada usia tersebut, tanaman padi sangat bergantung pada ketersediaan air untuk tumbuh optimal.
Baca Juga: Daftar lengkap 18 pejabat baru Subang: Dari eselon II hingga IV, ini nama dan jabatan yang dilantik
Jika kekeringan terus berlanjut, maka potensi gagal panen akan semakin besar dan berdampak langsung pada pendapatan petani.
Tidak hanya merugikan petani secara individu, kondisi ini juga berpotensi memengaruhi produksi pangan di tingkat daerah.
Petani harap pemerintah segera bertindak
Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, para petani berharap adanya langkah cepat dan konkret dari pemerintah, baik daerah maupun pusat.
Mereka meminta intervensi dalam bentuk penanganan darurat krisis air, perbaikan sistem irigasi, hingga bantuan distribusi air untuk menyelamatkan tanaman padi yang sudah terlanjur ditanam.