GENMILENIAL.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan menjadi sorotan publik dinilai tidak semata-mata dipicu oleh faktor global.
Ekonom senior sekaligus eks Menteri Keuangan RI periode 2013–2014, Chatib Basri, mengungkap bahwa persoalan utama justru terletak pada kepercayaan terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Isu ini menjadi perhatian pelaku usaha dan investor karena berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi.
Ketidakpastian fiskal dinilai memicu kekhawatiran pasar, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Pawai berubah petaka, Kang Rey takziah ke keluarga kru sisingaan yang meninggal
“Persoalan kita itu adalah soal confidence di fiskal,” ujar Chatib dalam keterangannya di Jakarta, Selasa 9 Juni 2026.
Risiko fiskal jadi pemicu utama
Chatib menjelaskan, analisis kausalitas yang dilakukannya menunjukkan adanya hubungan kuat antara pelemahan rupiah dengan risiko fiskal yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS).
CDS sendiri merupakan indikator biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar utang negara.
Hasil pengujian data menunjukkan sekitar 23 persen variasi pelemahan rupiah dapat dijelaskan oleh pergerakan CDS.
Baca Juga: Dasco sebut pertemuan Chatib Basri dengan Presiden bahas strategi pertumbuhan ekonomi
Sementara itu, pergerakan rupiah hanya mampu menjelaskan sekitar 2,3 persen dari perubahan CDS.
Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi risiko fiskal dibandingkan faktor lain.
Rupiah melemah saat negara lain stabil