“Biar masyarakat juga sadar bahwa sampah ini benar-benar untuk keperluan kita, tadi magot saja butuh sampah,” ujarnya.
Dorong fasilitas pengelolaan sampah di tingkat RW
Selain edukasi kepada masyarakat, Evi juga menyoroti pentingnya dukungan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.
Ia mengaku siap mendorong dukungan melalui program pokok pikiran (pokir) anggota DPRD untuk pengadaan sarana pengelolaan sampah.
“Saya di DPRD juga terkait masalah mesinnya untuk pengelolaan sampah Insya Allah siap untuk mendorong itu,” ungkapnya.
Baca Juga: THR pensiun 2026 capai 97 persen, TASPEN pangkas proses administrasi jadi 1 hari
Ia juga menilai keberadaan kendaraan pengangkut sampah seperti cator atau becak motor sangat dibutuhkan di tingkat RW.
“Minimal cator per RW harus ada. Kasihan kalau lihat bapak-bapak sepuh mengangkut sampah pakai roda. Setiap RW minimal harus ada cator untuk penanganan sampah,” katanya.
Evi juga mendorong agar masyarakat mulai memilah sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah.
Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk biopori atau pengolahan lainnya, sementara sampah nonorganik dapat dijual kepada pengepul atau melalui bank sampah.
Baca Juga: Perang citra dan mesin uang digital yang mengaburkan fakta konflik Iran
“Kalau seperti botol minuman bisa dijual ke pengepul atau ditukar di bank sampah, misalnya dengan minyak goreng,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus segera ditemukan solusinya.
“Insya Allah saya mendukung untuk penanganan sampah ini karena ini benar-benar PR kita semua dan harus ada solusinya,” pungkasnya.***