GENMILENIAL.ID – Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 diprediksi tidak akan mengguncang rezim Teheran secara signifikan.
Alih-alih melemahkan struktur kekuasaan Iran, langkah militer besar itu justru memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan dan memperkuat solidaritas nasional rakyat Iran.
Dalam wawancara eksklusif bersama GenMilenial.id, Selasa 3 Maret 2026, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menilai serangan ini bukan sekadar menahan ambisi nuklir Teheran, tetapi juga menekan rezim agar berubah secara politik.
Baca Juga: Bupati Subang tegaskan visi Subang Leucir 2027 saat safari Ramadan di Binong
“Langkah ini memperkuat dominasi AS di Timur Tengah dan menimbulkan konsekuensi sosial yang kerap diabaikan oleh perencana serangan,” ujarnya.
Dimensi strategis dan geopolitik
Serangan AS dan Israel terjadi di tengah kondisi Iran yang menghadapi tekanan ekonomi, protes domestik yang masih berlangsung, dan pemulihan pertahanan pasca perang Juni 2025.
Tujuan utama serangan bukan hanya mencegah program nuklir, tetapi secara eksplisit menekan rezim untuk berubah.
Dari perspektif geopolitik, langkah ini memperkuat poros Amerika-Israel dan menegaskan dominasi AS di kawasan, sekaligus merespons kebangkitan pengaruh China dan Rusia.
Baca Juga: Kapolres Subang tegaskan media mitra strategis jaga kondusivitas daerah
Solidaritas nasional Iran menguat
Meski rakyat Iran terfragmentasi dan tidak bersenjata, solidaritas nasional cenderung meningkat saat menghadapi ancaman eksternal.
Sejarah Republik Islam selama 46 tahun menunjukkan bahwa pengaruh luar jarang berhasil menjatuhkan rezim secara langsung.
Ritual berkabung 40 hari yang diumumkan pemerintah kini menjadi simbol perpaduan emosional dan kekuatan kolektif, sekaligus memperkuat legitimasi rezim di mata publik.