Kemitraan akan diperluas bersama Kabupaten Sleman, Bantul, Kota Yogyakarta, serta mendorong kolaborasi lebih intensif dengan Gunungkidul dan Kulon Progo.
Baca Juga: Tragedi miras oplosan di Subang: 8 tewas, polisi buru pemasok gembling beracun
Sleman Creative Space diproyeksikan menjadi hub kolaborasi yang lebih optimal, baik sebagai ruang inkubasi, produksi, presentasi karya, maupun ruang temu lintas subsektor kreatif.
Urun rembug dan buku strategi kebudayaan
Sebagai langkah lanjutan, JCS juga akan kembali menggulirkan forum 'Urun Rembug Kebudayaan' sebagai ruang dialog terbuka untuk merumuskan arah kebudayaan dan kreativitas Yogyakarta.
Forum ini akan ditindaklanjuti dengan penyusunan Buku Strategi Kebudayaan sebagai dokumen konseptual berbasis praktik lapangan dan pengalaman jejaring.
Di sisi lain, JCS juga berencana melakukan silaturahmi ke makam para pendiri yang telah berpulang menjelang Ramadan sebagai bentuk penghormatan atas warisan gagasan yang menjadi fondasi gerakan kreatif di Yogyakarta.
Baca Juga: Bobon Santoso jual akun YouTube Rp20 miliar, akui merasa ‘terbebani’ biaya produksi
Komitmen sejak 2015
Didirikan pada 31 Desember 2015, Jogja Creative Society merupakan lembaga pemikiran berbasis kreativitas lintas disiplin dengan visi 'Mitayani, Migunani, Mrantasi untuk Jogja Istimewa'.
Sejak awal, JCS aktif mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif daerah, termasuk keterlibatan dalam Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) yang kemudian berevolusi menjadi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF).
Melalui rapat awal tahun ini, JCS kembali menegaskan komitmennya sebagai bagian dari jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN) untuk menghadirkan praktik pengembangan kota kreatif yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Kolaborasi, bagi JCS, bukan sekadar slogan, melainkan kerja kolektif yang harus terus dijaga dan diwujudkan.***