Banjir bandang yang datang tidak hanya merusak satu bangunan, tetapi menghancurkan dua rumah milik keluarganya sekaligus.
Baca Juga: Cerita ayah di Garoga Tapsel, anaknya yang masih 2 tahun terseret banjir saat sedang menyusu ibunya
“Rumah kami ada dua sudah hancur,” lanjutnya dengan suara kecil.
Bagi anak-anak seusia mereka, kehilangan ini bukan perkara mudah dipahami.
Mereka belum sepenuhnya mengerti soal kerugian materi atau proses pemulihan pascabencana, yang mereka tahu hanyalah kenyataan bahwa rumah tempat mereka pulang kini sudah tidak ada.
Kenangan yang ikut tersapu air
Dalam pengakuannya, bocah tersebut kembali menegaskan bahwa rumah yang selama ini menjadi identitas keluarga mereka kini hanya tinggal kenangan.
Baca Juga: Hanya minta selimut dan pampers adik, bocah Aceh Tamiang ini ketuk hati relawan
“Tidak ada lagi rumah kami yang berwarna biru," ujarnya.
Ucapan itu menutup cerita singkat yang meninggalkan keharuan mendalam. Warna biru yang mereka sebut berulang kali menjadi simbol kenangan akan rasa aman yang kini lenyap tersapu banjir bandang.
Hidup di tenda pengungsian
Dalam video tersebut, kedua bocah tampak berada di tenda pengungsian darurat bersama warga lainnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian masa depan, pikiran mereka masih tertuju pada rumah yang telah hilang.
Baca Juga: Subang raih juara II PKK desa terbaik Jabar di Hari Ibu ke-97, bukti perempuan desa makin berdaya
Banjir bandang di Kecamatan Kolang, Tapanuli Tengah, menyebabkan kerusakan parah di sejumlah pemukiman warga.