Anak-anak menjadi kelompok paling rentan, kehilangan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga rasa aman dan kenyamanan yang selama ini mereka kenal.
Kisah dua bocah Desa Sipange ini menjadi pengingat bahwa di balik data kerusakan dan angka kerugian, ada luka emosional anak-anak yang membutuhkan perhatian serius dalam proses pemulihan pascabencana.***
Artikel Terkait
Malam mencekam di Kota Lintang Bawah Aceh Tamiang: Warga tidur di atas balok kayu dan minum air lumpur demi bertahan hidup
Modal lampu mobil, warga Desa Pematang Durian Aceh Tamiang gotong royong buka akses jembatan tertimbun lumpur
Bermalam di hutan hingga makan ubi mentah, kisah pilu ibu di Tapanuli Tengah bertahan hidup saat longsor menerjang
Kepolosan anak korban banjir Aceh Tamiang: Rumah hancur tinggal seng, tapi tetap mengaku sehat
Masjid Pesantren Darul Mukhlisin jadi ‘benteng’ tahan gelondongan kayu saat banjir bandang Aceh Tamiang
Hanya minta selimut dan pampers adik, bocah Aceh Tamiang ini ketuk hati relawan
Cerita ayah di Garoga Tapsel, anaknya yang masih 2 tahun terseret banjir saat sedang menyusu ibunya