news

Badai kasus keracunan terpa program MBG di sekolah, kritik menu makanan kian tajam

Kamis, 25 September 2025 | 19:26 WIB
Ahli Gizi, dr. Tan Shot Yen menyoroti menu makanan yang dinilai tak layak konsumsi dalam Program MBG di sebagian wilayah Tanah Air (Instagram.com/@drtanshotyen)

GENMILENIAL.ID – Gelombang kasus keracunan massal yang menimpa program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengguncang kepercayaan publik.

Alih-alih menjadi jawaban atas masalah gizi anak, program ini justru menghadapi ujian serius setelah ratusan siswa jatuh sakit hanya dalam tiga hari terakhir.

Kementerian dan lembaga terkait berusaha memberikan klarifikasi, namun masyarakat tetap curiga.

Transparansi investigasi kini menjadi tuntutan utama agar kasus keracunan tidak berhenti sebagai insiden, melainkan menjadi momentum perbaikan menyeluruh.

Baca Juga: Sabotase di PBB? Trump alami eskalator mati, audio tak terdengar saat pidato

Investigasi dan krisis kepercayaan

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang menyebut pihaknya telah membentuk tim investigasi khusus yang bekerja sama dengan kepolisian, BPOM, dan dinas kesehatan.

“Tim investigasi sudah dibentuk, ada tim internal dari kami dan sekarang lagi proses, bahkan sudah mulai berjalan,” ujar Nanik di Jakarta, Kamis, 25 September 2025.

Namun, langkah ini dinilai belum cukup untuk meredakan krisis kepercayaan. Di Bandung Barat, tercatat 842 orang menjadi korban keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Lia N. Sukandar, merinci bahwa kasus pertama terjadi pada Senin, 22 September 2025 dengan 393 korban.

Baca Juga: Kritik pedas dr. Tan Shot Yen soal MBG: Dari SPPG yang bermasalah hingga tuntutan transparansi anggaran

Dua hari kemudian, jumlah korban bertambah 449 orang. Fakta ini memperlihatkan adanya celah serius dalam standar penyediaan makanan bergizi.

Kritik pedas soal menu

Selain isu keamanan pangan, pilihan menu dalam program MBG juga menuai kritik. Ahli gizi dr. Tan Shot Yen menilai pemberian burger dan spageti di sekolah merupakan bentuk pengingkaran terhadap kekayaan pangan lokal Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini