“Alokasikan menu lokal 80 persen isi MBG di seluruh wilayah. Saya ingin anak Papua bisa makan ikan kuah asam, anak Sulawesi makan kapurung,” tegas Tan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI, Senin, 22 September 2025.
Baca Juga: 11 Siswa SD di Subang diduga keracunan usai santap MBG, Dinkes kirim sampel ke laboratorium
Tan juga mengkritik kualitas bahan yang digunakan penyedia makanan. “Rasanya kayak karton, warnanya pink, lalu anak-anak disuruh DIY, astaga,” ujarnya.
Kritik ahli gizi itu menjadi alarm bahwa MBG tidak bisa hanya mengedepankan distribusi masif tanpa memperhatikan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan menu.
Kini, publik menunggu apakah evaluasi yang dijanjikan pemerintah mampu menjawab krisis kepercayaan di tengah maraknya kasus keracunan massal.***
Artikel Terkait
Kasus keracunan siswa merebak di 6 daerah, alarm serius standar kebersihan program MBG
Usulan DPR ganti MBG jadi uang tunai, istana tegaskan skema makanan siap santap tetap terbaik
Perumda Tirta Rangga Subang sambung jaringan air bersih ke Pelabuhan Patimban dan Dapur MBG
352 Siswa keracunan massal di Bandung Barat, Dedi Mulyadi janji evaluasi program MBG
Kasus keracunan MBG jadi KLB: BGN konsisten salahkan SPPG, Waka baru bentuk Tim Investigasi Khusus
11 Siswa SD di Subang diduga keracunan usai santap MBG, Dinkes kirim sampel ke laboratorium
Kritik pedas dr. Tan Shot Yen soal MBG: Dari SPPG yang bermasalah hingga tuntutan transparansi anggaran