GENMILENIAL.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memicu kontroversi global usai membahas rencana relokasi warga Gaza dalam pertemuan di Washington DC, Rabu, 9 Juli 2025.
Dalam pertemuan informal tersebut, Netanyahu menyebut wacana relokasi sebagai 'langkah menuju perdamaian', sembari menyampaikan bahwa Israel dan AS tengah menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah negara untuk menjadi tujuan relokasi warga Gaza.
“Jika mereka ingin tinggal, mereka boleh tinggal. Tapi jika mereka ingin pergi, mereka seharusnya bisa pergi,” ujar Netanyahu seperti dikutip Al Jazeera, Rabu, 16 Juli 2025.
Ia menegaskan, Gaza tidak seharusnya menjadi penjara bagi jutaan penduduk yang terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Netanyahu juga menyebut bahwa relokasi adalah bagian dari usaha memberikan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.
Namun ia tidak menjelaskan secara rinci negara mana yang tengah dijajaki, sementara tetangga Gaza seperti Mesir, Yordania, Lebanon, dan Suriah sudah menampung jutaan pengungsi Palestina selama puluhan tahun.
Sebelumnya, Presiden Trump sempat mewacanakan pembangunan 'kawasan elite' di Gaza setelah relokasi penduduk dilakukan.
Dalam pernyataannya pada Februari 2025 lalu, ia membayangkan Gaza diubah menjadi 'Riviera of the Middle East' daerah wisata pesisir mewah setelah bersih dari konflik.
“Sesuatu yang baik akan terjadi,” ujar Trump dengan penuh optimisme, namun menuai kritik tajam dari para pengamat.
Pernyataan keduanya langsung memantik respons tajam dari komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan.
Banyak pihak mengecam gagasan tersebut sebagai bentuk pemaksaan yang justru berisiko memperparah penderitaan warga Palestina.
Baca Juga: Ahmad Dhani laporkan Lita Gading terkait dugaan dukungan perundungan terhadap putrinya