news

ESAI: Transformasi energi gagal manakala literasi terabaikan?

Kamis, 26 Juni 2025 | 14:11 WIB
Doddi Ahmad Fauji, seorang penulis, penyair, jurnalis, dan praktisi tata kelola sampah

 

Dalam ilmu fisika, kita diajarkan bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. Ia hanya bisa dikonversi dari satu bentuk ke bentuk lain: dari panas menjadi gerak, dari makanan menjadi tenaga, dari cahaya menjadi listrik, dan bahkan dari suara menjadi bentuk emosi dan reaksi sosial.

Prinsip ini mungkin terasa sederhana di atas kertas. Namun dalam praktik sosial, budaya, dan politik, konversi energi bukanlah proses yang netral. Ia sarat konteks, kepentingan, bahkan konflik horisontal maupun vertikal.

Ketika energi hendak diubah baik itu energi dari sampah, dari air, dari batu bara, atau bahkan dari interaksi manusia, maka yang diperlukan bukan hanya alat atau teknologi, melainkan pemahaman yang utuh.

Baca Juga: Ridwan Kamil gugat balik Lisa Mariana Rp105 miliar, tuding ada upaya merusak reputasi publik

Di sinilah literasi menjadi kunci, namun sayangnya, justru sering kali terabaikan.

Literasi yang dimaksud di sini bukan semata-mata kemampuan membaca dan menulis secara teknis. Literasi adalah kapasitas untuk menangkap dan memahami simbol, makna, relasi, dan dampak dari suatu informasi atau isyarat yang tersurat maupun tersurat.

Literasi tidak berhenti pada penguasaan teks, tetapi mencakup cara manusia membaca lingkungan sosial, struktur kekuasaan, simbol-simbol budaya, bahkan tanda-tanda alam.

Dalam konteks energi, literasi berarti kemampuan memahami bagaimana energi diproduksi, digunakan, dan dikonversi, serta siapa yang terdampak, siapa yang diuntungkan, dan apa konsekuensi jangka panjangnya bagi masyarakat dan lingkungan.

Baca Juga: Target dua tahun Gubernur Jabar: Tak ada lagi bangunan liar di bantaran sungai, Subang dukung revitalisasi tambak Pantura

Fenomena pelanggaran terhadap makna simbol dapat dilihat dari contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika lampu lalu lintas menyala kuning, itu berarti kendaraan harus bersiap berhenti. Namun dalam praktiknya, di banyak kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, warna kuning justru dibaca sebagai sinyal untuk mempercepat laju kendaraan sebelum lampu merah menyala.

Kegagalan memahami pesan sederhana ini mencerminkan pola pikir yang lebih luas: ketergesaan, kepentingan diri, dan kegagalan membaca sistem sebagai kesatuan.

Kemacetan, kecelakaan, dan kekacauan lalu lintas bukan sekadar akibat dari padatnya kendaraan, tetapi juga dari ketunabacaan terhadap isyarat dalam sistem sosial.

Halaman:

Tags

Terkini