Informasi mengenai bensin eceran seharga Rp100 ribu hingga Rp200 ribu untuk 1,5 liter turut memunculkan pertanyaan mengenai kewajaran harga dan keamanan bahan bakar yang dijual.
Baca Juga: Warga Sidajaya gotong royong cor jalan 600 meter, akses petani dua dusun jadi perhatian
Masyarakat perlu berhati-hati saat membeli bensin dari sumber yang tidak jelas.
Selain mempertimbangkan harga, konsumen juga perlu memperhatikan cara penyimpanan dan wadah yang digunakan karena bensin merupakan cairan yang mudah terbakar.
Di sisi lain, dugaan penjualan dengan harga tinggi tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut melalui konfirmasi kepada pihak yang terlibat maupun otoritas terkait.
Langkah ini penting agar informasi yang beredar tidak langsung dianggap sebagai gambaran seluruh praktik penjualan bensin eceran di Bali.
Baca Juga: Alih fungsi 13,4 hektare sawah untuk Pertamina, Subang minta irigasi dan pompa diperbaiki
Perbaikan distribusi BBM menuju SPBU dan pengawasan terhadap praktik penjualan yang berpotensi merugikan konsumen menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Dengan distribusi yang lebih lancar, masyarakat diharapkan dapat memperoleh BBM tanpa harus menghadapi antrean berkepanjangan atau bergantung pada penjualan eceran dengan harga yang tidak wajar.***
Artikel Terkait
Viral komentar Wali Kota Kendari soal warganya yang dilanda krisis BBM: Saya juga pusing!
Masuk Oktober 2026, harga BBM nonsubsidi bakal naik? Ini penjelasan Wamen ESDM
Target pemulihan pasokan BBM Bali belum terwujud merata, warga masih antre
Viral! Gubernur Bali adu mulut dengan petugas SPBU saat tinjau antrean BBM Bali, ini yang disorot
Bali terapkan WFH dan PJJ selama 3 hari imbas antrean BBM mengular di SPBU
Pertamina minta maaf soal BBM Bali langka, kapan antrean berakhir?
Antrean BBM Bali tutup akses Alfamart, pegawai bingung kejar sales lantaran pengunjung susah datang