Menurut Ali, pengerjaan secara simultan tersebut dapat mengurangi kapasitas sandar dalam waktu bersamaan.
Kondisi itu dinilai menjadi salah satu pemicu terjadinya penyumbatan atau bottleneck kendaraan dalam sebulan terakhir.
Di sisi lain, revitalisasi dermaga menurutnya juga perlu dibarengi peningkatan kapasitas agar mampu menampung kendaraan dengan muatan 50 ton ke atas.
"Pemerintah dan pengelola pelabuhan seharusnya menentukan skala prioritas. Fokuskan dahulu penyelesaian revitalisasi dermaga yang ada, atau tuntaskan pembangunan dermaga baru secara bertahap," ucap Ali
"Jika dikerjakan serentak, kapasitas sandar merosot tajam dan dampaknya adalah antrean panjang yang kita lihat belakangan ini," sambungnya.
Ali menilai penanganan antrean Ketapang-Gilimanuk membutuhkan kombinasi antara optimalisasi armada, efisiensi waktu bongkar muat, serta pengaturan pengerjaan infrastruktur.
Dengan strategi tersebut, kapasitas penyeberangan diharapkan dapat ditingkatkan tanpa hanya mengandalkan penambahan kapal berukuran besar.***
Artikel Terkait
Kang Akur pastikan dukungan pemda untuk investor, infrastruktur Subang terus diperkuat
HUT ke-78 Subang jadi ajang evaluasi, Sekda akui layanan dan infrastruktur masih dikeluhkan warga
Subang dikebut program UPLAND, Kementan dorong percepatan infrastruktur pertanian dataran tinggi
Rp1,2 miliar digelontorkan untuk jalan Sukasari-Cisampih, Kang Rey: Bukti pembangunan berkelanjutan
Mau lewat Tol Cipali? Catat 12 titik pemeliharaan jalan pada 15-17 September
DPRD Subang bahas RAPBD 2027, anggaran jalan capai Rp181,4 miliar
Viral warga Bener Meriah kompak bangun jalan rusak, patungan Rp80 juta secara swadaya