Ketapang-Gilimanuk terancam lumpuh, pakar ITS soroti salah strategi dan beberkan opsi solusi

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 20 September 2026 | 23:26 WIB
Pengamat transportasi sekaligus alumnus ITS Surabaya, Ali Ruchi, saat menyampaikan evaluasi penanganan antrean Ketapang-Gilimanuk, Jumat, 18 September 2026 (Dok. Istimewa)
Pengamat transportasi sekaligus alumnus ITS Surabaya, Ali Ruchi, saat menyampaikan evaluasi penanganan antrean Ketapang-Gilimanuk, Jumat, 18 September 2026 (Dok. Istimewa)

Menurut Ali, pengerjaan secara simultan tersebut dapat mengurangi kapasitas sandar dalam waktu bersamaan.

Kondisi itu dinilai menjadi salah satu pemicu terjadinya penyumbatan atau bottleneck kendaraan dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: BGN layangkan teguran ke pegawai SPPG Bantul, buntut dugaan konten olok-olok korban keracunan MBG Karo

Di sisi lain, revitalisasi dermaga menurutnya juga perlu dibarengi peningkatan kapasitas agar mampu menampung kendaraan dengan muatan 50 ton ke atas.

"Pemerintah dan pengelola pelabuhan seharusnya menentukan skala prioritas. Fokuskan dahulu penyelesaian revitalisasi dermaga yang ada, atau tuntaskan pembangunan dermaga baru secara bertahap," ucap Ali

"Jika dikerjakan serentak, kapasitas sandar merosot tajam dan dampaknya adalah antrean panjang yang kita lihat belakangan ini," sambungnya.

Baca Juga: Ibadah umat Kristiani di Subang dikawal polisi, Kapolres tegaskan komitmen jaga keamanan tanpa pandang keyakinan

Ali menilai penanganan antrean Ketapang-Gilimanuk membutuhkan kombinasi antara optimalisasi armada, efisiensi waktu bongkar muat, serta pengaturan pengerjaan infrastruktur.

Dengan strategi tersebut, kapasitas penyeberangan diharapkan dapat ditingkatkan tanpa hanya mengandalkan penambahan kapal berukuran besar.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X