Djangu menjelaskan bahwa tujuan perjalanan saat itu adalah untuk mendokumentasikan aktivitas erupsi dari jarak aman, termasuk menangkap momen percikan lahar.
Baca Juga: Erupsi Gunung Dukono telan korban, 3 pendaki meninggal dan 3 lainnya masih hilang
Ia bahkan sempat melakukan pemantauan sebelumnya di kantor vulkanologi, termasuk melihat rekaman aktivitas Gunung Dukono melalui alat seismograf.
Berdasarkan data tersebut, diketahui arah bukaan kawah mengarah ke utara, sehingga jalur pendakian yang dianggap lebih aman adalah dari sisi timur.
Namun demikian, kondisi angin yang kerap berubah membuat situasi di lapangan menjadi sulit diprediksi.
Sempat curiga ada kejanggalan
Sebelum erupsi terjadi, Djangu mengaku sempat merasakan kejanggalan saat berada di area pemantauan dekat puncak.
Baca Juga: Kesaksian penjaga rumah: Teriakan minta tolong warnai kebakaran rumah anggota BPK di Jagakarsa
Ia menyebut tidak terlihat adanya asap yang biasanya keluar dari kawah Gunung Dukono, kondisi yang dinilai tidak normal.
“Ini aneh, karakter Gunung Dukono tidak seperti ini. Diduga ada sumbatan di dasar kawah dan tekanan besar sedang terkumpul,” ungkapnya.
Kecurigaan tersebut membuatnya meningkatkan kewaspadaan, meskipun saat itu situasi masih terlihat relatif tenang.
Detik-detik letusan
Erupsi terjadi sekitar pukul 07.42 WIT, ditandai dengan dentuman keras yang disusul asap hitam pekat, lontaran material vulkanik, hingga percikan lahar.
Baca Juga: ICCN dorong Padang jadi Kota Gastronomi Dunia UNESCO, perkuat ekosistem kuliner dan budaya
Djangu menyebut sempat melihat sejumlah pendaki lain berada cukup dekat dengan bibir kawah, bahkan ada yang tengah merekam menggunakan drone.
Artikel Terkait
Mengintip sejarah letusan puncak berapi kembar di NTT yang kembali erupsi pada Kamis, 7 November 2024: Tingginya lebih dari 1.500 mdpl!
Di sela kunker di AS, Prabowo gelar rapat via vicon respons cepat erupsi Gunung Lewotobi
Gunung Lewotobi Laki-laki erupsi dahsyat, kolom abu capai 19 ribu meter
Gunung Marapi erupsi, kolom abu capai 1.600 meter dan warga diminta jauhi radius 3 km
IFG Labuan Bajo Marathon 2025 resmi ditunda, erupsi Lewotobi jadi alasan utama
Hidup di bawah ancaman erupsi Semeru, warga Lumajang curhat ketakutan hingga usul gunung dipindahkan
Erupsi Gunung Dukono telan korban, 3 pendaki meninggal dan 3 lainnya masih hilang