“Sudah 30 tahun lebih tanah ini bersama saya,” sambungnya.
Lubang raksasa tersebut tak hanya mengancam kebun milik Usman, tetapi juga telah melibas jalan alternatif warga.
Akses yang sebelumnya dibuat karena jalan utama sudah hilang kini ikut terdampak dan resmi ditutup sejak 20 Februari 2026. Warga pun terpaksa memutar lebih jauh untuk beraktivitas.
Penjelasan Badan Riset dan Inovasi Nasional
Menurut keterangan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, fenomena yang terjadi di Aceh Tengah bukanlah sinkhole, melainkan longsoran tanah.
Baca Juga: Bedah Rumah ke-9 Polres Subang, bukti Polri hadir untuk warga kecil
BRIN menjelaskan bahwa lapisan tufa di kawasan tersebut tidak padat dan memiliki kekuatan rendah sehingga mudah tergerus dan runtuh.
Faktor gempa bumi juga diduga berperan memperlemah struktur lereng, termasuk gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang pernah terjadi di Aceh Tengah pada 2013.
Selain itu, keberadaan saluran irigasi di sekitar area persawahan dinilai turut mempercepat proses pelapukan dan melemahkan struktur tanah akibat penyerapan air.
Di tengah ancaman yang kian nyata, Usman hanya bisa berharap yang terbaik sembari mengikhlaskan jika suatu hari tanah yang telah membersamai hidupnya selama tiga dekade benar-benar hilang.***
Artikel Terkait
Lubang raksasa di Aceh Tengah terus meluas, jalan penghubung terputus
Warga Aceh Timur jalani sahur Ramadan pertama di tenda pengungsian pascabanjir
3 Bulan pascabanjir Aceh Tamiang, warga Desa Sulum bertahan dengan air sungai keruh untuk mandi dan masak
Lubang raksasa di Aceh Tengah makin melebar, jalan alternatif warga ditutup total
Jembatan runtuh diterjang banjir, Luna Maya terenyuh lihat warga Aceh tetap bertahan
Cerita bocah Geudumbak Aceh Utara bertahan di pohon kelapa saat banjir 2025, sehari semalam tanpa makan
Beras nenek pengungsi di Aceh Tamiang hilang dicuri, warganet: Tak punya hati
Warga Aceh di tenda pengungsian hanya ambil satu kotak nasi, viral karena sikap peduli sesama