Curhat SBY soal geopolitik dunia, khawatir perang dunia III picu korban hingga 5 miliar jiwa

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Jumat, 23 Januari 2026 | 13:35 WIB
Menyoroti poin-poin penting dalam penuturan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ihwal Perang Dunia III (YouTube.com/Susilo Bambang Yudhoyono)
Menyoroti poin-poin penting dalam penuturan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ihwal Perang Dunia III (YouTube.com/Susilo Bambang Yudhoyono)

Munculnya pemimpin kuat dan politik konfrontasi

Dalam pandangannya, salah satu indikator mengkhawatirkan adalah munculnya pemimpin-pemimpin kuat di sejumlah negara yang cenderung mengedepankan kekuatan militer.

Baca Juga: Viral jalan di Sangatta Utara dipenuhi kerikil, siswa SMAN 2 jatuh hingga warganet curhat

“Terlihat muncul pemimpin-pemimpin yang haus perang, terbentuknya blok-blok kekuatan, serta pembangunan militer besar-besaran,” kata SBY.

Ia juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global yang dibarengi dengan penguatan ekonomi perang dan persaingan pengaruh antarnegara besar.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat mirip dengan situasi dunia sebelum pecahnya perang besar di masa lalu.

Prediksi kelam: Korban bisa capai 5 miliar jiwa

Meski menyampaikan kekhawatirannya, SBY berharap prediksi tersebut tidak benar-benar terjadi. Namun, ia mengingatkan bahwa dampak Perang Dunia III bisa sangat fatal bagi peradaban manusia.

Baca Juga: Mahasiswa UMY gugat UU LLAJ ke MK usai nyaris tertabrak truk gara-gara puntung rokok

“Banyak studi menyebutkan, jika terjadi perang dunia atau perang nuklir, korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia,” ujar SBY.

“Tidak akan ada peradaban yang tersisa. Harapan umat manusia bisa musnah,” tambahnya.

SBY pun berharap para pemimpin dunia dapat belajar dari sejarah dan mengedepankan diplomasi, kerja sama, serta upaya damai demi mencegah tragedi kemanusiaan berskala global.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X