“Diulik terus, ijazah, pindah ijazah ke pemakzulan, pindah ke ijazah anaknya, sekarang Whoosh dalam satu tahun,” ujarnya.
Ray menyebut fenomena ini sebagai bentuk 'Jokowisasi', istilah yang ia ciptakan untuk menggambarkan bagaimana mantan pejabat bisa terus menjadi pusat kritik dan evaluasi publik pasca-lengser.
“Ini Anda bisa lho di-Jokowisasi setelah tidak jadi pejabat, diulik terus,” candanya.
Beda dari era Soeharto
Ray juga membandingkan situasi Jokowi dengan Presiden Soeharto.
Ia menilai gelombang kritik terhadap Jokowi lebih kuat karena tidak muncul dari krisis besar atau pergolakan politik, melainkan dari dinamika masyarakat sipil yang lebih terbuka.
“Kalau Pak Harto kan ada peristiwa 1998 itu, jadi ada alasan besar kenapa publik menilai. Tapi di Pak Jokowi ini, tanpa krisis pun publik tetap mengevaluasi kepemimpinannya,” pungkas Ray.***
Artikel Terkait
Salah sebut Prabowo jadi Jokowi di KTT ASEAN, RTM Malaysia minta maaf: Kekeliruan serius dalam siaran langsung
Syahganda Nainggolan: Luka 10 tahun dari Jokowi mulai disembuhkan pemerintahan Prabowo
Wariskan Whoosh dengan utang Rp116 triliun, Jokowi tegaskan: Transportasi umum tak diukur dari laba
Anthony Budiawan desak KPK usut dugaan mark up Whoosh: Jangan ada yang cuci tangan, termasuk Jokowi dan Luhut
Mahfud MD soroti proyek Whoosh Rp116 triliun: KPK bisa panggil Jokowi untuk dimintai keterangan
Budi Arie nyatakan siap gabung Gerindra, tegaskan tak tinggalkan Jokowi: Jangan adu domba!
Budi Arie kembali pimpin Projo, siap ganti logo tak lagi bergambar siluet Jokowi: Projo bukan pro Jokowi, tapi pro rakyat dan negeri