MPR desak TNI dan Polri usut tuntas dugaan penganiayaan yang tewaskan Prada Lucky

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Sabtu, 9 Agustus 2025 | 14:51 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, turut mendesak TNI dan Polri usut kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (Instagram/hnwahid)
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, turut mendesak TNI dan Polri usut kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (Instagram/hnwahid)

GENMILENIAL.ID – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengecam keras dugaan penganiayaan yang menewaskan Prada Lucky Chepril Saputra Namo.

Ia menegaskan, TNI dan Polri harus menjadi teladan sekaligus pengayom bagi masyarakat maupun di internal institusinya.

“TNI dan Polisi kita menjadi teladan, bagaimana mereka menghadirkan konsolidasi. Kalau mereka diharap menjadi pengayom masyarakat, menjadi pembela negara, tentulah mereka harus menjadi pengayom di antara mereka sendiri, pembela di antara mereka sendiri,” ujar HNW di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 8 Agustus 2025.

Ia mengingatkan agar kedua institusi tersebut tidak menunjukkan kesan tidak solid atau saling mencederai.

Baca Juga: Tom Lembong ungkap alasan tak bawa pengacara saat pemeriksaan kasus impor gula

HNW menegaskan, kasus Prada Lucky harus diproses secara adil dan transparan.

“Karena ini sudah terjadi, hukum harus ditegakkan seadil-adilnya, setransparan mungkin,” katanya.

Ia menambahkan, penegakan hukum yang adil akan memulihkan kepercayaan publik terhadap aparat.

“Bahwa masyarakat percaya hukum ada di Indonesia, masyarakat percaya hukum diberlakukan kepada siapapun, dan dengan cara itu mudah-mudahan akan mengembalikan juga soliditas di internal TNI maupun lembaga negeri lainnya,” pungkasnya.

Baca Juga: Ayah Prada Lucky Namo tuntut keadilan, dugaan penganiayaan senior berujung kematian

Prada Lucky meninggal dunia pada Rabu 6 Agustus 2025 setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Aeremo, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Ia diduga menjadi korban kekerasan para seniornya.

Ayah korban, Sersan Mayor Christian Namo, menuntut kasus anaknya diselesaikan secara adil.

“Nyawa saya taruhannya kok, saya mati dulu baru masalah ini selesai,” tegasnya di Bandara El Tari, Kupang, Kamis 7 Agustus 2025.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X