Penyakit yang paling sering ditangani adalah pneumonia, hipertensi, dan diabetes melitus.
Sementara itu, data kumulatif dari rumah sakit Arab Saudi (RSAS) mencatat sebanyak 1.710 jemaah dirawat dengan dominasi diagnosis pneumonia, diabetes melitus, serta Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Dalam bidang kefarmasian, layanan obat mencapai 12.396 kasus dengan pemakaian tertinggi berupa tablet kombinasi flu dan batuk.
Refleksi untuk perbaikan
Meski mengalami kendala, capaian penurunan angka kematian jemaah menjadi catatan positif yang diharapkan terus membaik di tahun-tahun mendatang.
Penyesuaian regulasi Saudi dan penguatan koordinasi antarnegara menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim penyelenggara haji di masa depan.***
Artikel Terkait
Menag Nasaruddin buka suara soal dugaan korupsi haji 2024: Klaim penyelenggaraan 2025 aman
Prabowo kunjungi Arab Saudi, Menag ungkap rencana pembangunan kampung haji Indonesia di Makkah
Tiga jemaah haji Indonesia masih hilang, petugas terus lakukan pencarian hingga akhir operasional haji 2025
Lampu hijau dari Arab Saudi, kampung haji Indonesia segera direalisasikan
418 Jemaah haji Indonesia meninggal dunia, Kemenkes minta seleksi kesehatan diperketat jelang musim haji berikutnya
Pangeran MBS dukung penuh rencana pembangunan kampung haji Indonesia di Arab Saudi
Menag ungkap peluang ibadah haji dan umrah gunakan kapal laut, sebut Saudi kini lebih terbuka