KDM di Subang: Bangun karakter siswa, reformasi birokrasi jangan bergantung APBD

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 23 Juni 2025 | 22:25 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat memimpin apel pagi di Halaman Kantor Bupati Subang, Senin 23 Juni 2025 (Dok. Istimewa)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat memimpin apel pagi di Halaman Kantor Bupati Subang, Senin 23 Juni 2025 (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti perlunya reformasi mendalam dalam pola kepemimpinan daerah dan pembinaan generasi muda, saat memimpin apel pagi di Halaman Kantor Bupati Subang, Senin, 23 Juni 2025.

Dalam amanatnya, Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu menyampaikan bahwa Indonesia tengah menghadapi krisis karakter, bukan hanya di kalangan generasi muda, tetapi juga dalam tubuh birokrasi pemerintahan.

Ia menilai manajemen pemerintahan saat ini terlalu bergantung pada struktur dan anggaran, sementara aspek moral dan keteladanan sering kali terabaikan.

Baca Juga: DPRD Subang genjot pembahasan Raperda Perampingan OPD, dorong efisiensi dan inovasi birokrasi

“Kalau tanah bisa berdo’a, mungkin sudah memohon agar manusia berhenti menyayat tubuhnya. Pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan APBD. Harus ada keberanian dan kolaborasi. Lihat Lanud Suryadarma, rapi, disiplin, meskipun anggarannya kecil,” ungkap KDM dalam amanatnya.

Apel tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya pelatihan karakter dan bela negara untuk 50 siswa tingkat SMP dari Kabupaten Subang.

Para siswa akan menjalani program khusus selama 10 hari di Lanud Suryadarma Kalijati, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan TNI AU.

Program ini diinisiasi sebagai respons terhadap meningkatnya kasus penyimpangan perilaku di kalangan remaja, mulai dari tawuran, bolos sekolah, merokok, hingga penyalahgunaan gawai.

Baca Juga: KPK periksa Ustaz Khalid Basalamah terkait dugaan korupsi kuota haji Kemenag

“Saya tidak ingin menjadi pemimpin struktural. Saya ingin menjadi pemimpin yang turun langsung, menyapu jalan, mengangkat sampah. Kalau ASN mencintai kantornya, maka mereka akan bekerja bukan karena tunjangan, tapi karena rasa tanggung jawab,” tegasnya.

Kritik untuk struktur gemuk dan lemahnya pola asuh

Kang Dedi juga menyentil sistem birokrasi yang dinilai terlalu gemuk dan membebani keuangan daerah, sementara pekerja lapangan seperti petugas kebersihan tidak mendapat perhatian yang layak.

Ia bahkan membandingkan dengan negara seperti Vietnam yang berani memangkas struktur pemerintahan demi efektivitas pembangunan.

Tak hanya itu, KDM menyoroti lemahnya pola asuh di rumah yang membuat anak-anak kehilangan keterikatan emosional dengan orang tuanya akibat dominasi gawai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X