Momen ini menjadi simbol penting dalam upaya mendokumentasikan sejarah dan memperkuat literasi budaya.
Baca Juga: Viral manusia silver todongkan pisau di Kuta Bali, polisi tangkap pelaku usai resahkan pengendara
Selain itu, hadir pula Prof. Bagus Muljadi yang memperkenalkan karyanya bertajuk Ensiklopedia Ki Sunda. Buku ini menjadi proyek ambisius yang menggabungkan kearifan lokal Sunda dengan pendekatan sains modern.
“Ensiklopedia Ki Sunda bukan hanya sebatas buku, melainkan proyek ambisius dalam mengembalikan martabat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, karya tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan cara berpikir masyarakat Sunda ke tingkat global.
“Ini merupakan proyek di mana orang Sunda memperkenalkan pemikirannya kepada dunia,” ujarnya.
Baca Juga: Oknum pimpinan Ponpes di Garut diamankan polisi, diduga jadi pelaku pencabulan santriwati
Ensiklopedia tersebut terdiri dari tiga jilid utama yang membahas aspek alam, manusia, serta teknologi dan buah pikir masyarakat Sunda.
Pesan filosofis Gubernur Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Sunda bukan hanya identitas etnis, melainkan memiliki dimensi ideologis, filosofis, historis, dan sosiologis.
“Sunda itu watak ideologis. Karena itu ada tiga kerangka, yakni Alam Bihari (masa lalu), Alam Kiwari (masa kini), dan Alam Poe Isuk (masa depan),” ucapnya.
Ia berharap kegiatan seni dan budaya seperti ini dapat mendorong masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Sunda sebagai bagian dari jati diri bangsa.
Baca Juga: Viral catcalling di KA Lokal Garut–Purwakarta, pelaku diturunkan di Kiaracondong usai picu kericuhan
Momentum perkuat identitas budaya
Pagelaran Pajajaran Gugat menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya budaya sebagai fondasi pembangunan.