Selain perokok, ada beberapa kelompok lain yang juga memiliki risiko tinggi terinfeksi HMPV. Di antaranya adalah:
- Anak-anak, terutama balita.
- Lansia di atas 65 tahun.
- Penderita penyakit kronis, seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dan diabetes.
- Individu dengan sistem imun lemah, seperti penderita HIV, pasien yang menjalani kemoterapi, atau mereka dengan gangguan imunitas lainnya.
Pentingnya edukasi dan sosialisasi
Prof. Erlina mengimbau pemerintah dan media untuk berperan aktif dalam menyampaikan edukasi tentang bahaya merokok.
"Sosialisasi yang masif dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya terkait risiko kesehatan perokok dalam menghadapi ancaman virus seperti HMPV," tuturnya.
Baca Juga: Masih ingat Joni pemanjat tiang bendera? kini berhasil lolos Bintara AD dengan perjuangan ini
Ia menutup penjelasannya dengan imbauan keras kepada masyarakat, "Perokok termasuk kelompok yang rentan. Jadi, tolong bantu kami untuk mengedukasi masyarakat agar tidak merokok."
Dengan ancaman HMPV yang nyata, langkah preventif seperti berhenti merokok, menjaga gaya hidup sehat, dan memperkuat imunitas tubuh menjadi kunci penting untuk melindungi diri dari risiko infeksi.***
Artikel Terkait
KPK duga kasus korupsi APD Covid-19 di Kemenkes capai Rp625 Miliar
Mendalami kasus dugaan korupsi pengadaan APD Kemenkes di masa krisis covid 19, begini ‘Deal’ tiga orang tersangka
HMPV marak di China hingga muncul imbauan Kemenkes, akankah seperti Covid-19?
HMPV sudah masuk ke Indonesia, Menkes sebut anak-anak jadi korban dan begini gejalanya
Virus HMPV tidak bisa diobati, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?
Apakah penderita HMPV juga perlu melakukan isolasi seperti penderita Covid-19?
Jadi negara pertama yang laporkan virus HMPV, bagaimana kondisi China saat ini?