“Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri,” kata Lukman.
Punya beragam fasilitas pendidikan
Seiring perkembangannya, Pesantren Al Hamid memiliki sejumlah fasilitas pendidikan untuk menunjang aktivitas belajar dan kehidupan para santri.
Fasilitas tersebut meliputi asrama, gedung Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT), taman kanak-kanak, koperasi, klinik, kantin, musala, serta sarana olahraga.
Tidak hanya membangun fasilitas, KH Hamid Djiman juga mempersiapkan sumber daya manusia yang nantinya mengelola pesantren.
Putra-putrinya dikirim untuk belajar ke sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Yanbu’ul Qur’an Kudus, Pesantren Tahfidzul Qur’an Malang, dan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.
Hubungan dengan Al Falah Ploso kemudian menjadi bagian dari tradisi keilmuan Pesantren Al Hamid. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut menginduk dan mendapat pengawasan dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kediri.
Baca Juga: Siapa Siti Hasmah? Istri eks PM Malaysia Mahathir Mohamad yang wafat di usia 100 tahun
Mulai menerima santri sejak 2002
Pesantren Al Hamid mulai menerima santri dan siswa pada 2002 untuk jenjang TK, MI, MTs, dan MA.
Nama yayasan yang menaunginya kemudian berubah dari Yayasan Mantab Sejahtera menjadi Yayasan Mantab Al Hamid pada 2007 berdasarkan Akta Notaris Nomor 77/17-12-2007.
Pada 2010, Pesantren Al Hamid terdaftar dengan Nomor Statistik Pondok Pesantren 510031750036.
Memasuki 2026, jumlah santri Pesantren Al Hamid mencapai sekitar 1.800 orang. Mereka didukung 210 guru dan 25 tenaga pendidik.
Baca Juga: Telisik modus 'Abah' pimpinan ponpes di Lombok tengah yang diduga cabuli belasan santriwati