Deklarasi Asia–Pasifik untuk Palestina 2025
Puncak konferensi ditandai dengan pengesahan 'Asia–Pacific Declaration for Palestine 2025', yang menegaskan keprihatinan mendalam terhadap genosida di Gaza dan seruan mendesak kepada dunia internasional untuk menghentikan kekejaman Israel.
Deklarasi itu juga menuntut:
- Penghentian total blokade Gaza dan pembukaan akses kemanusiaan tanpa batas.
- Penarikan pasukan Israel dari seluruh wilayah Palestina yang diduduki secara ilegal.
- Pengerahan pasukan multinasional di bawah pimpinan Indonesia, Turki, dan Malaysia untuk menegakkan gencatan senjata.
- Pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel oleh negara-negara anggota OKI.
- Percepatan proses hukum di Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap kejahatan perang Israel.
Selain itu, para delegasi juga menyepakati pembentukan Dana Abadi untuk Palestina (Endowment Fund for Palestine), memperkuat Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), serta membangun jaringan media dan masyarakat sipil Asia–Pasifik untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.
Konferensi dihadiri tokoh dan akademisi Asia–Pasifik
Rangkaian sesi pleno dan diskusi paralel menghadirkan tokoh dari Indonesia, Malaysia, Jepang, Australia, Filipina, dan Selandia Baru.
Baca Juga: Bangun Subang dari desa ke kota, Kang Rey raih penghargaan TV One berkat inovasi dan kerja nyata
Di antaranya Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ambassador Prof. Dr. Makarim Wibisono, Mr. Ahmed Atawnah, Dr. Fauziah Abd Hasan, dan Ikang Fawzi (Ahmad Zulfikar Fauzi, MBA) yang menyoroti peran tokoh lintas agama, seniman, dan masyarakat sipil dalam memperkuat solidaritas global.
Konferensi yang didukung oleh Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, IZI, DT Peduli, Paragon Corp, dan BSI Maslahat ini menghasilkan komitmen bersama untuk terus memperjuangkan kemerdekaan penuh Palestina dengan Yerusalem sebagai ibu kota.
“Dari Jakarta, suara Asia–Pasifik menggema untuk Palestina, demi keadilan, martabat, dan kebebasan,” ujar Prof. Sudarnoto menutup konferensi.***