Pengangkatan Djamari sebagai Menko Polkam bukan sekadar rotasi kabinet.
Di tengah tantangan keamanan global, potensi konflik regional, dan ancaman keamanan dalam negeri, figur dengan latar militer dinilai membawa kepastian arah strategi.
Dengan pengalaman di lapangan dan di ruang rapat politik, Djamari diharapkan mampu menjembatani kepentingan pertahanan, keamanan, dan stabilitas politik nasional.
Baca Juga: Erick Thohir resmi Menpora: Dari Inter Milan hingga panggung politik nasional
“Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia kepada UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darma bakti saya kepada bangsa dan negara,” ucap Djamari menirukan Presiden Prabowo saat pengambilan sumpah.
Kabinet Prabowo, warna baru politik nasional
Selain Djamari, reshuffle ini juga membawa sejumlah nama lain, seperti Erick Thohir yang didapuk menjadi Menpora, Afriansyah Noor sebagai Wamenaker, hingga Farida Farichah sebagai Wamenkop.
Susunan baru ini menegaskan upaya Presiden Prabowo memperkuat kabinetnya dengan kombinasi teknokrat, politisi, dan figur militer.
Baca Juga: Tawuran pelajar di Subang direncanakan via Instagram, 1 tewas, 12 remaja diamankan polisi
Keputusan menunjuk Djamari sekaligus memperlihatkan benang merah antara militer dan politik yang masih kental di era Prabowo.
Tantangan di depan mata
Sebagai Menko Polkam, Djamari akan menghadapi pekerjaan rumah besar, menjaga stabilitas politik di tengah kompetisi kekuasaan, memperkuat koordinasi antar lembaga keamanan, serta memastikan Indonesia mampu menghadapi tantangan geopolitik global.
Dengan latar militer yang kuat dan pengalaman di jalur politik, publik kini menunggu, apakah Djamari akan mampu menjawab tantangan besar tersebut atau justru terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya sebagai jenderal.***