karir-bisnis

Indonesia berisiko alami resesi setelah tarif impor naik 32 persen, apa yang harus dilakukan?

Jumat, 4 April 2025 | 23:39 WIB
Langkah trump naikkan tarif impor di berbagai negara yang menimbulkan risiko tinggi (Instagram.com/whitehouse)

GENMILENIAL.ID - Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif 32 persen pada produk asal Indonesia mulai Rabu 3 April 2025 telah memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri.

Dampaknya diperkirakan cukup besar terhadap ekspor Indonesia, terutama di sektor otomotif, elektronik, serta industri padat karya seperti tekstil dan pakaian jadi.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai bahwa tarif baru ini dapat memicu resesi pada kuartal IV 2025 serta mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.

Namun, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan beberapa langkah strategis untuk menghadapi tantangan ini.

Baca Juga: Terima lamaran Maxime Bouttier, Luna Maya bagikan momen bahagia disambut bahagia netizen

Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Noudhy Valdryno, mengungkapkan bahwa Prabowo telah menyiapkan tiga langkah utama untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah perubahan kebijakan global.

1. Memperluas mitra dagang dengan bergabung ke BRICS

Prabowo telah membawa Indonesia menjadi anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan).

Keanggotaan ini memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional dan membuka peluang ekspor ke pasar non-tradisional.

Berbagai perjanjian dagang multilateral yang melibatkan BRICS diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasar AS.

Baca Juga: Profil Sandi Butar Butar dan kronologi dua kali pemecatannya dari Dinas Damkar Depok

2. Percepatan hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA)

Prabowo mempercepat hilirisasi sektor pertambangan agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga produk bernilai tambah.

Contohnya, kebijakan hilirisasi nikel telah berhasil meningkatkan nilai ekspor dari US$ 3,7 miliar pada 2014 menjadi US$ 34,3 miliar pada 2022.

Halaman:

Tags

Terkini