Beda gaya Purbaya Yudhi dan Sri Mulyani, pengamat ekonomi soroti rezim bapak vs ibu dalam kelola dana pemerintah

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Jumat, 19 September 2025 | 20:59 WIB
Menyoroti perbedaan gaya pengelolaan keuangan Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa dengan pendahulunya, Sri Mulyani (Dok. Kemenkeu)
Menyoroti perbedaan gaya pengelolaan keuangan Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa dengan pendahulunya, Sri Mulyani (Dok. Kemenkeu)

GENMILENIAL.ID – Belum sebulan menjabat sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa langsung mengambil langkah cepat dalam pengelolaan dana pemerintah.

Salah satunya, ia menggelontorkan Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke Bank Himpunan Milik Negara (Himbara) untuk mendorong perekonomian nasional.

Dana ini disalurkan ke lima bank Himbara, yakni Mandiri, BRI, BTN, BNI, dan BSI.

Baca Juga: 4 Fakta terkini skandal korupsi kuota haji 2024, KPK beberkan modus oknum pemeras Khalid Basalamah

"Sudah saya setujui tadi pagi. Jadi saya pastikan dana tersebut akan masuk ke sistem perbankan hari ini," tegas Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu, 13 September 2025.

Langkah cepat Purbaya ini mendapat sorotan mantan Ketua KPK Abraham Samad dalam siniar YouTube pribadinya, SPEAK UP, Kamis, 18 September 2025.

Menurut Abraham, dana Rp200 triliun tersebut dapat digunakan untuk kredit UMKM dan stimulus ekonomi lainnya.

Rezim bapak vs ibu dalam kebijakan keuangan

Ekonom senior Yanwar Rizky menjelaskan perbedaan gaya pengelolaan dana antara Purbaya Yudhi dan pendahulunya Sri Mulyani.

Baca Juga: Dibentuk era Jokowi, PCO bertransformasi jadi Badan Komunikasi Pemerintah usai evaluasi setahun

Ia menyebutnya sebagai fenomena 'rezim ibu-ibu' versus 'rezim bapak-bapak'.

"Kalau ibu-ibu jadi menteri keuangan, cenderung hati-hati, menahan dulu pengeluaran sampai yakin tata kelolanya benar. Kalau bapak-bapak, biasanya dana langsung diberikan, tapi kalau ada masalah, siap dikoreksi di belakang," jelas Yanwar.

Menurut Yanwar, karakter Purbaya yang lebih agresif tercermin dari langkah cepatnya menggelontorkan dana Rp200 triliun, berbeda dengan gaya kehati-hatian Sri Mulyani.

Langkah ini sejalan dengan pandangan Purbaya yang menganut teori likuiditas Milton Friedman, di mana dana yang mengendap sebaiknya segera dialirkan agar ekonomi bergerak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X