Industri asuransi umum rugi Rp10 triliun di 2024, dampak bencana alam global dan tekanan premi

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 19 Mei 2025 | 05:41 WIB
Ilustrasi data report terkait fluktuasi pada asuransi umum (Unsplash.com/@StephenDawson)
Ilustrasi data report terkait fluktuasi pada asuransi umum (Unsplash.com/@StephenDawson)

GENMILENIAL.ID - Industri asuransi umum di Indonesia mengalami tekanan berat sepanjang 2024 akibat dampak turbulensi global, terutama dari tingginya klaim akibat bencana alam yang terjadi secara masif di berbagai negara.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, menyampaikan bahwa tekanan ini tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di pasar asuransi Asia secara keseluruhan.

“Tekanan akibat bencana alam global menyebabkan perusahaan asuransi harus mengubah strategi investasi karena tingginya klaim. Dampaknya terasa ke dalam negeri, premi jadi lebih mahal dan risiko meningkat,” ujar Budi, Sabtu 17 Mei 2025.

Baca Juga: Presiden Prabowo tegaskan ada kekuatan besar yang ingin Indonesia tak mandiri

Kondisi tersebut turut menyebabkan hasil underwriting melemah, serta meningkatnya cadangan premi dan cadangan klaim, yang berujung pada penurunan tajam laba perusahaan.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, laba industri asuransi umum pada 2023 masih tercatat sebesar Rp7,80 triliun. Namun pada 2024, industri ini mencatatkan kerugian sebesar Rp10,14 triliun atau anjlok hingga 197,8 persen.

Di sisi lain, laporan dari Swiss Re menyebut bahwa sepanjang 2024, total kerugian akibat bencana alam yang ditanggung industri asuransi global mencapai US$137 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun. Angka ini melanjutkan tren peningkatan tahunan sekitar 5 persen–7 persen.

Baca Juga: Komdigi tegaskan gratis ongkir dari e-commerce tidak terkena dampak aturan baru

Jika tren tersebut berlanjut, kerugian diperkirakan akan menyentuh US$145 miliar pada 2025, menjadikannya salah satu tahun dengan angka kerugian terbesar dalam sejarah industri asuransi.

Swiss Re juga mencatat bahwa sebagian besar kerugian global disebabkan oleh secondary perils, yaitu bencana alam berskala kecil hingga menengah yang terjadi lebih sering namun tetap berdampak besar pada klaim asuransi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X