Hutasoit menegaskan, negara kini tidak hanya menghadapi tantangan penguasaan wilayah fisik, tetapi juga perebutan makna di ruang publik digital.
Ia merekomendasikan agar kebijakan komunikasi ke depan fokus pada studi longitudinal generasi muda Papua di ruang digital, serta etnografi digital yang menghubungkan wacana daring dengan dinamika komunitas akar rumput.***