humaniora

Pakistan jadi penengah perang Iran-AS, pengamat UI soroti risiko gagal dan tekanan internal

Minggu, 29 Maret 2026 | 17:35 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

GENMILENIAL.ID – Upaya Pakistan menjadi penengah dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran di tengah memanasnya perang sejak akhir Februari 2026 menuai sorotan.

Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Yanuardi Syukur, menilai langkah Islamabad memang strategis, namun penuh risiko dan belum tentu berujung damai.

Dalam wawancara eksklusif, Minggu, 29 Maret 2026, ia memaparkan sejumlah faktor yang bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan mediasi tersebut.

Baca Juga: Viral mobil MBG dipakai angkut sampah di Nabire, BGN langsung bekukan operasional SPPG

Posisi strategis tapi rumit

Menurut Yanuardi, Pakistan memiliki posisi unik karena menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat sekaligus tetap membuka komunikasi dengan Iran.

Hal ini terlihat dari langkah Panglima Angkatan Darat Pakistan yang menjalin komunikasi dengan Presiden AS, serta Perdana Menteri Pakistan yang juga berhubungan dengan pihak Iran.

Namun di sisi lain, posisi ini justru membuat Pakistan berada dalam tekanan geopolitik yang kompleks.

Baca Juga: Wakapolda Jabar turun langsung ke Cipali, cek kesiapan rest area hadapi puncak arus balik

Pakistan memiliki perjanjian pertahanan strategis dengan Arab Saudi, serta berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer.

Selain itu, tekanan juga datang dari dalam negeri, khususnya dari komunitas Syiah yang mengecam keras serangan AS dan Israel.

Aksi demonstrasi besar bahkan sempat terjadi di Karachi, menunjukkan bahwa situasi domestik Pakistan tidak sepenuhnya kondusif untuk memainkan peran sebagai penengah.

Keraguan publik dan sikap pemerintah yang dinilai gamang

Yanuardi juga menyoroti adanya keraguan dari publik Pakistan terhadap niat Amerika Serikat dalam proses diplomasi.

Halaman:

Tags

Terkini