Baca Juga: ESAI: Sebuah upaya mengembalikan hati ke pusat peradaban
“Esensi puasa, baik di bulan Ramadan maupun masa Prapaskah, adalah pengendalian diri dan empati,” ujarnya di Jakarta pada Selasa, 17 Februari 2026.
“Ini adalah momentum bagi kita untuk memperkuat Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa),” tambahnya.
Fenomena langka ini menjadi pengingat penting bahwa keberagaman bukan hanya soal ritual, melainkan peluang untuk mempererat toleransi, membangun empati, dan memperkuat nilai persaudaraan.
Di tengah perbedaan, masyarakat dapat melihat bagaimana tradisi yang berbeda bisa saling melengkapi dan menciptakan harmoni sosial, sekaligus memperkaya wawasan budaya dan spiritual di Indonesia.***