Krisis air bersih menjadi tantangan utama. Para ibu mengandalkan dapur umum untuk memasak, sementara warga laki-laki bergotong royong membangun pipanisasi agar air mengalir ke seluruh camp.
“Ini bapak-bapak masih ngerjain pipanisasi untuk penyaluran air, pokoknya semua di sini kita kerjakan apa yang masih bisa diusahakan,” ujarnya.
Camp pengungsian Desa Delung Sekinel menjadi bukti nyata ketahanan komunitas dan solidaritas warga pasca-bencana, sekaligus menyoroti pentingnya dukungan logistik dan fasilitas darurat bagi penyintas banjir bandang dan tanah longsor.***