Ia juga menjelaskan bahwa lumpur masih memenuhi rumah mereka dan tidak tahu harus dibuang ke mana.
“Rumah kami masih berlumpur, ada juga yang roboh. Kami bingung mau ke mana lagi. Terima kasih sebelumnya, Pak,” lanjutnya dengan suara lirih.
Baca Juga: Sekolah rusak diterjang banjir bandang, bocah asal Agam Sumbar ini harap bisa belajar normal kembali
Sejak Desember 2025, warga Kampung Durian terpaksa bertahan di area kuburan tersebut karena belum tersedianya hunian layak yang bisa ditempati.
Puluhan ribu rumah rusak di Aceh Tamiang
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kerusakan di Kabupaten Aceh Tamiang tergolong masif.
Tercatat sebanyak 37.888 unit rumah terdampak banjir, dengan rincian:
- 15.174 unit rusak ringan
- 9.366 unit rusak sedang
- 8.509 unit rusak berat
- 4.839 unit rumah rusak berat hanyut
Baca Juga: Usai boyong keluarga ke Indonesia, John Herdman disebut bakal terbang ke Eropa temui pemain diaspora
Kondisi ini membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada hunian sementara.
Ribuan huntara disiapkan, warga masih menunggu
Sebagai langkah penanganan, BNPB mencatat akan dibangun 2.299 unit hunian sementara (huntara) yang tersebar di sejumlah kecamatan di Aceh Tamiang.
Huntara tersebut diperuntukkan bagi warga dengan kategori rumah rusak berat hingga hilang, serta akan dilengkapi fasilitas dasar seperti:
- MCK
- Jaringan listrik
- Klinik kesehatan
- Area bermain anak
Baca Juga: BYD hadirkan Sirkuit All-Terrain NEV di Zhengzhou, uji teknologi kendaraan listrik di medan ekstrem
Pembangunan sudah dimulai sejak awal Januari 2026 dan ditargetkan rampung sebelum Ramadan, agar warga dapat menjalani ibadah dengan lebih layak.
Namun hingga kini, sebagian warga seperti di Kampung Durian masih harus bertahan di pengungsian darurat, bahkan di area pemakaman, sambil menunggu hunian layak benar-benar bisa ditempati.***