Dengan suara lirih, anak-anak itu menceritakan perasaan mereka saat melihat kampung halaman yang kini hanya menyisakan puing dan lumpur.
Baca Juga: Gelondongan kayu raksasa terdampar di Aceh Tamiang usai banjir bandang, warganet heboh
“Terpukul, kenapa rumah saya tidak ada lagi,” kata salah satu bocah.
“Sakit hati, karena rumah-rumah orang sudah tidak ada lagi,” sambung anak lainnya.
Bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi ruang kenangan, tempat bermain, dan simbol rasa aman yang kini sirna dalam sekejap.
Tak minta mainan, bocah ini pilih Al-Qur’an
Momen paling menggetarkan hati terjadi saat anak-anak tersebut ditanya mengenai keinginan mereka.
Baca Juga: BIB Lembang perkuat ketahanan pangan lewat penanaman hijauan dan jagung di Paseh Subang
Di tengah keterbatasan dan duka, permintaan yang keluar justru jauh dari bayangan kebanyakan orang.
Alih-alih meminta mainan atau hiburan untuk mengusir kesedihan, seorang bocah dengan mantap mengungkapkan keinginannya.
“Al-Qur’an, aku enggak minta mainan, mau ngaji,” ucapnya.
Ucapan sederhana itu sontak menyentuh hati warganet. Di tengah kehilangan rumah dan masa kecil yang terguncang, bocah tersebut memilih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai penguat batin menghadapi musibah.
Keteguhan di tengah bencana
Kisah ini menjadi pengingat bahwa bencana tak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga ujian mental dan spiritual, terutama bagi anak-anak.