GENMILENIAL.ID — Di balik deretan tenda pengungsian yang panas dan pengap, tersimpan kisah getir anak-anak korban banjir bandang di Aceh yang harus kehilangan rumah dan rasa aman di usia belia.
Sudah lebih dari tiga pekan mereka bertahan di posko darurat, jauh dari kehidupan normal yang pernah mereka miliki sebelum bencana datang menerjang.
Banjir bandang yang melanda wilayah Aceh pada akhir November 2025 tak hanya merenggut harta benda warga, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi anak-anak.
Baca Juga: Jawab julukan 'Bupati Beton', Kang Rey tekankan layanan publik bersih dan kerja terukur
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini rata dengan tanah, digantikan tenda sempit yang menjadi ruang hidup sementara.
22 Hari hidup di tenda pengungsian
Potret kehidupan pengungsi cilik ini terekam dalam unggahan akun TikTok @Ikramafro pada Sabtu, 20 Desember 2025.
Dalam video tersebut, terlihat percakapan sederhana namun sarat emosi antara perekam dan anak-anak yang kini tinggal di tenda pengungsian.
“22 hari,” ucap seorang bocah laki-laki ketika ditanya sudah berapa lama ia tinggal di tenda.
Baca Juga: Akhir penantian 14 hari: Wanita di Sibolga akhirnya temukan jasad orang tua tertimbun longsor
Hari-hari di pengungsian bukanlah perkara mudah bagi mereka. Tidur beralaskan tikar, dikelilingi suara bising dan kondisi alam yang tidak menentu, menjadi rutinitas baru yang harus diterima dengan pasrah.
“Di tenda tidurnya enggak pegal, tapi banyak nyamuk dan takut ada ular,” ujarnya polos.
Luka batin karena kehilangan rumah
Kehilangan rumah di usia yang masih sangat muda meninggalkan luka yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.