humaniora

Kasus Timothy Anugerah di UNUD: Cermin buram dunia kampus dan luka sosial dari bullying yang tak terlihat

Minggu, 19 Oktober 2025 | 23:51 WIB
Menyoroti skandal perundungan yang membayangi kasus kematian Timothy Anugerah di kampus Udayana (X.com/@Meta80ki)

Bullying: Luka sosial yang tak terlihat

Dalam bukunya Should Bullying Be a Crime? (2020), peneliti sosial Emma Jones menulis bahwa perundungan adalah bentuk kekerasan psikososial yang mampu menghancurkan martabat dan kepercayaan diri seseorang.

Baca Juga: Prabowo: Bangsa Indonesia terlalu baik hingga mudah dibohongi, pemimpin tak boleh lugu

“Bullying bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan kekerasan psikososial yang dapat mengikis martabat, menghancurkan kepercayaan diri, dan bahkan merenggut nyawa,” tulis Emma Jones.

Pandangan itu relevan dengan kasus Timothy. Bullying kerap dimulai dari hal yang tampak ringan, ejekan, tekanan kelompok, atau pengucilan, namun berujung pada kehancuran mental korban.

Butuh ketahanan moral dan reformasi budaya kampus

Pemikiran Matthew Sharpe dalam bukunya Stoicism, Bullying, and Beyond (2022) menawarkan perspektif lain.

Ia menyebut, “Jika hukum berperan menegakkan keadilan dari luar, maka Stoisisme menawarkan kekuatan dari dalam.”

Baca Juga: Bambang pamungkas sindir fans Garuda yang terlalu emosional: Belajar dari Jepang, menang 6-0 pun masih introspeksi

Artinya, pemberantasan bullying tidak cukup dengan sanksi administratif, tetapi juga harus disertai pembangunan ketahanan moral, empati sosial, dan reformasi budaya kampus.

Korban perlu dukungan pemulihan psikologis dan lingkungan yang aman, sementara pelaku butuh ruang refleksi agar memahami dampak perbuatannya.

Kasus Timothy menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan: bahwa di balik gedung megah dan nilai akademik tinggi, masih tersembunyi luka sosial yang bisa berujung kehilangan nyawa.***

 

Halaman:

Tags

Terkini