Bagi Arif, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Ia memandang politik sebagai 'panglima pembangunan' yang menentukan arah kebijakan negara.
“Partai politik ketika ada di parlemen bisa menentukan arah kebijakan. Kebijakan pemerintah itu kebijakan politik, dan kita tidak bisa lepas dari politik. Mau dipungkiri atau tidak, kita harus mengikutinya,” tegasnya.
Baca Juga: Cemburu diduga jadi pemicu, pria di Mesuji habisi nyawa kekasih dan serahkan diri ke polisi
Baginya, inti perjuangan politik adalah memastikan kebijakan berpihak kepada masyarakat, bukan pada kepentingan pribadi atau golongan.
Ia percaya pembangunan yang berhasil selalu ditopang oleh keputusan politik yang tepat.
Kiprah dan tantangan di Partai Demokrat
Meski belum pernah duduk di kursi DPRD, Arif tetap aktif mencalonkan diri di setiap pemilu sebagai bentuk tanggung jawab kader.
Ia pernah maju di DPRD Provinsi pada 2014 dan 2024, serta DPRD Kabupaten Subang pada 2019.
“Kalau kita benar-benar pure mencintai partai ini, urusan terpilih atau tidak itu belakangan. Yang penting kita berjuang dulu dan membesarkan partai,” katanya.
Baca Juga: Viral! Warga cekcok dengan Satpol PP soal dugaan penyitaan air mineral donasi di Pati
Partai Demokrat Subang pernah berjaya dengan 9 kursi DPRD pada 2009, namun kemudian menurun menjadi 5 kursi di 2014, dan 2 kursi di 2019 dan 2024.
Arif mengakui badai politik nasional turut mempengaruhi perolehan suara di daerah, meski secara nasional jumlah suara Demokrat bertambah.
Konsistensi tanpa pindah haluan
Hingga kini, Arif tetap teguh di Demokrat tanpa pernah tergoda pindah partai.
“Insya Allah, selama ini di antara partai lain, ya Demokrat. Saya belum tertarik juga dengan partai lain,” tutupnya.***