Baca Juga: Tiga bulan pascabanjir Aceh, anak-anak bertahan belajar di ruko dan tenda darurat
Ketika penonton menikmati cerita, mereka sekaligus disuguhkan lanskap, atmosfer, dan identitas lokal yang melekat dalam setiap adegan.
Kang Rey berharap film tersebut mampu menjadi karya besar yang diminati publik sekaligus membawa dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Semoga bisa menjadi film yang besar, dan dinikmati, diminati oleh banyak penonton di Indonesia,” pungkasnya.
Subang dan ekosistem industri kreatif
Kehadiran produksi film skala nasional ini juga menjadi sinyal bahwa Subang mulai dilirik sebagai ruang kreatif baru di Jawa Barat.
Baca Juga: Viral penerbangan Timur Tengah tertunda usai konflik Israel vs Iran, WNI terjebak di Madinah
Dengan keterlibatan bintang utama seperti Keisya Levronka dan Kiesha Alvaro, serta dukungan aktor senior seperti Nugie, Dhea Ananda, Dennis Adhiswara, Jarwo Kwat, dan Ebel Cobra, eksposur terhadap daerah diprediksi semakin luas.
Lebih jauh, kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku industri kreatif membuka peluang multiplier effect bagi sektor pariwisata, UMKM, hingga ekonomi kreatif lokal.
Jika momentum ini dikelola konsisten, film 'Sisa Waktu Senja' bukan hanya menjadi cerita tentang senja dan ketegaran, tetapi juga babak baru bagi Subang sebagai destinasi syuting dan etalase potensi daerah di layar nasional.***
Artikel Terkait
Komentar Ernest Prakasa usai film 'Agak Laen' disalip JUMBO: Kekalahan paling membanggakan
Unggahan terakhir Gustiwiw di Instagram: Apresiasi untuk lagu ‘Diculik Cinta’ di film GJLS
ESAI: Sains dan seni dalam film Sore 'Istri dari Masa Depan'
PFN garap film animasi 'Pelangi di Mars' dengan teknologi XR, target tayang 2026
Film animasi 'Merah Putih One for All' hanya raih rating 1,0 di IMDb, penonton soroti dugaan plot dari AI
Raffi Ahmad hingga Iko Uwais donasikan hasil tiket film Timur untuk korban bencana di Sumatera
Pelatihan gratis dari Desa Sidajaya, LPK Balkondes Lembur Cigarukgak cetak SDM siap kerja untuk industri Subang