Film animasi 'Merah Putih One for All' hanya raih rating 1,0 di IMDb, penonton soroti dugaan plot dari AI

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 19 Agustus 2025 | 10:26 WIB
Poster film animasi di Indonesia berjudul Merah Putih One for All (Instagram.com/@perfiki.tv)
Poster film animasi di Indonesia berjudul Merah Putih One for All (Instagram.com/@perfiki.tv)

GENMILENIAL.IDFilm animasi Indonesia terbaru, 'Merah Putih One for All', menuai sorotan tajam usai hanya berhasil meraih rating 1,0 di situs Internet Movie Database (IMDb).

Hingga Selasa 19 Agustus 2025, film ini menjadi salah satu karya layar lebar lokal dengan penilaian terendah dari skala terbaik 10.

Film petualangan tersebut digarap oleh sutradara Endiarto dan Bintang Takari, serta diproduksi oleh Perfiki Kreasindo.

Baca Juga: Viral bocah di Gowa diduga pungut sisa makanan pejabat usai perayaan HUT RI ke-80

Disebut-sebut, biaya produksi film ini mencapai sekitar Rp6,7 miliar. Sejak 14 Agustus 2025, film 'Merah Putih One for All' sudah tayang terbatas di jaringan Cinema 21 atau XXI, hanya di 10 bioskop yang tersebar dari Jakarta hingga Surabaya.

Hujan kritik di IMDb

Di laman IMDb, sejumlah penonton tidak segan melontarkan kritik pedas. Banyak yang menilai kualitas film jauh di bawah standar, bahkan ada yang menyebutnya 'pemborosan uang'.

“Kualitasnya buruk, saya akan memberi nilai minus kalau bisa. Sungguh pemborosan uang dan penghinaan bagi animasi Indonesia,” tulis akun @Aretta-4.

Baca Juga: Setya Novanto bebas bersyarat, masih wajib lapor hingga 2029

Penonton lain juga menduga film ini menggunakan alur cerita yang dihasilkan oleh Artificial Intelligence (AI) sehingga terasa kaku dan tidak menggugah emosi.

“Saya juga memperhatikan beberapa karakter dicuri dan plot yang dihasilkan AI terlihat jelas. Saya sarankan kalian untuk tidak menonton ini, baik untuk hiburan maupun konten, karena sama sekali tidak layak ditonton,” ujar akun @Aretta-4.

Sorotan pada visual dan akting suara

Kritikan lain datang dari penonton yang menyoroti aspek visual dan pengisi suara.

Animasi film dianggap murahan dan berantakan, sementara kualitas dubbing dinilai tidak memiliki sentuhan emosional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X