“Kita coba kembangkan pelan-pelan dari mulai menyusun narasi besarnya, kita kolektifkan secara bersama-sama, karena instrumen pemuda ini banyak,” terangnya.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Bawaslu Subang itu juga meminta para kader dan pemuda Muhammadiyah Subang agar menaikan tensi pergerakanya terhadap panetrasi publik.
“Ruang-ruang publik yang hari ini sudah coba dibangun oleh teman-teman Muhammadiyah harus mulai ada panetrasinya, lebih dalam kaitan dengan agenda dan kegiatan sesuai dengan naluri dan selera publik,” ujarnya.
“Bahwa hari ini yang menjadi corak Muhammadiyah oleh publik itu ekspek dalam bidang pendidikan, maka hari ini wilayah-wilayah itu yang menjadi brand secara komoditas politik, artinya kalau urusan pendidikan serahkan ke Muhammadiyah,” tambahnya.
Untuk di Kabupaten Subang, Achmad Mansur pun mempertanyakan apakah peran-peran tersebut sudah dilakukan oleh kader-kader Muhammadiyah atau Pemuda Muhammadiyah.
“Apa penyumbatnya, apa motif yang belum bisa dilakukan,” tuturnya.
Ketua Bawaslu Subang juga menyebut bahwa Demokrasi di Kabupaten Subang masih mandeg di IPM, pendapatan perkapita masih lemah index pembangunan manusianya, pendidikanya rata-rata masih di SMP dan stuntingnya juga masih cukup tinggi.
“Tiga persoalan dasar itulah yang dimunculkan dan harus dikelola dengan sabar dan harus mampu membangun narasi-narasi besar yang perlu kita urai satu persatu persoalan itu, walaupun pintu masuknya dari pemilu,” tuturnya.